SISI GELAP INDUSTRI ANIME, BANYAK YANG BUNUH DIRI?

Daldisa
Daldisa

Anime memang menjadi salah satu industri yang paling menjanjikan saat ini. Hal ini bisa dilihat dari besarnya pemasukan yang berhasil didapatkan.
Antara tahun 2002 hingga 2017 saja,
pemasukan industri anime berlipat ganda menjadi $19 miliar per tahun atau setara
dengan Rp268 triliun. Kenyataan pahitnya, hal tersebut tidak memicu kesejahteraan para orang yang ada di balik layar, terutama animator.

BANYAK ANIMATOR BUNUH DIRI


Setiap adegan dalam anime dibuat menggunakan gambaran tangan. Namun kadang ada bantuan sedikit dari CGI, tetapi tetap lebih dominan dengan menggambar tangan. Banyak orang di Jepang yang bekerja sebagai seorang animator karena mereka memilih pekerjaan ini sebagai passion, bukan demi kehidupan yang layak. Pekerjaan mereka termasuk pekerjaan yang menjenuhkan. Dalam satu adegan dibutuhkan berlembar lembar gambar dengan presisi yang tinggi.

Tekanan yang mereka hadapi sebagai seorang animator sangatlah tinggi. Mereka sangat akrab.dengan yang namanya deadline ketat. Hal tersebut menyebabkan banyaknya animator anime merasa stress hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pada tahun 2014, ada seorang
animator laki-laki yang memutuskan untuk bunuh diri. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ia telah bekerja lebih dari 600 jam dalam sebulan sebelum kematiannya.

GAJI ANIMATOR YANG RENDAH


Salah satu pemicu utama penderitaan bagi animator adalah gajinya yang tidak seberapa dibaandingkan dengan beban kerja yang harus mereka tanggun9. Menurut Japanese Animation Creators, seorang animator di Jepang rata-rata digaji $10 ribu atau setara dengan Rpl41 juta setiap tahunnya. Jika seorang
animator senior, mereka dapat mendapatkan upah sekitar $19 ribu sampai $31 ribu yang setara dengan Rp268 juta - Rp438 juta per tahunnya.
Jumlah segitu mungkin terbilang besar untuk kita. Tapi di Jepang, uang sebanyak itu sangat pas-pasan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, terutama yang sudah berkeluarga. Maka dari itu, banyak animator yang mengambil pekerjaan tambahan. Wajar jika sampai muncul istilah Karoshi, yaitu kematian karena terlalu banyak pekerjaan.

TINGGINYA JAM KERJA SEORANG ANIMATOR


Untuk satu gambar, animator bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Apalagi, anime Jepang terkenal karena sangat memedulikan hingga detail terkecil. Oleh karena itu, wajar jika banyak animator yang merasa tertekan dengan kondisinya. Banyak animator tertidur di atas mejanya karena kelelahan. Tak sedikit yang masuk ke rumah sakit. Salah satu studio animasi Jepang, Madhouse, pernah dituduh melanggar kode etik pekerja karena karyawannya bekerja hampir 400 jam tiap bulan. Bahkan, mereka tidak mendapatkan libur satu hari pun selama 37 hari berturut-turut. Sekali lagi, tuntutan deadline merupakan salah satu penyebabnya. Yang lebih pahit, inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa studio anime banyak menggunakan tenaga freelance. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan peraturan ketenagakerjaan

MEMPERBUDAK FREELANCE


Setiap tahunnya ada sekitar 200 judul anime yang diproduksi di Jepang. Artinya, dibutuhkan banyak animator untuk mengisi posisi tersebut. Salah satu animator anime Sword Art Online mengatakan bahwa sekarang sulit untuk mencari animator berbakat. Sebagai solusinya, mereka menggunakan freelancer muda yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan anime. Apalagi, gaji mereka juga lebih murah. Freelancer sering digunakan untuk in-between animator. Yang dilakukan oleh mereka adalah menghubungkan antar frame sehingga pergerakan di anime terlihat lebih mulus. Sedihnya, industri anime sering memperlakukan para animator muda ini dengan semena-mena. Jika sudah tidak dibutuhkan, mereka akan dibuang begitu saja.

Gimana nih menurut kalian? tulis ya di kolom komentar dibawah! Oh ya, coba deh nonton anime shirobako, biar kalian lebih tau sama industri anime

Comments : SISI GELAP INDUSTRI ANIME, BANYAK YANG BUNUH DIRI?